Nama : Roy Markus Simatupang
Nim : 181201101
Kelas : BDH 5
Judul :
Nilai Ekenomi Komoditi Hutan Mangrove Di Desa Merak Belantung Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung Selatan.
Jurnal :
Sylva Lestari
Volume & Halaman : Volume 4(1)
Januari 2016 (69-80).
Tahun : 2016
Penulis : Dewi
Masithah, Asihing Kustanti, dan Rudi Hilmanto
Reviewer : Roy
Markus Simatupang
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
berbagai komoditi hutan mangrove yang memiliki nilai ekonomi dan nilai ekonomi
dari maisng-masing komoditi tersebut, menghitung total nilai ekonomi komoditi
yang dihasilkan hutan mangrove, serta mengetahui jenis dan dominasi mangrove
penyusun hutan mangrove yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan
masyarakat dan menjaga kelestarian alam. Perhitungan
nilai ekonomi terhadap komoditi hutan mangrove bertujuan untuk memberikan
gambaran potensi ekonomi hutan mangrove yang dapat dimanfaatkan secara langsung
bagi kehidupan dan dapat digunakan sebagai acuan dalam aktivitas pemanfaatan
serta memberikan gambaran pola pengelolaan yang akan dilakukan. Nilai ekonomi
nilai guna langsung juga menunjukkan tingkat optimalisasi pemanfaatan yang
telah dilakukan di kawasan hutan mangrove tersebut, sehingga terjadinya
pemanfaatan mangrove tidak memberikan dampak buruk dan degradasi mangrove di
masa mendatang
Objek Penelitian
Adapun objek dari penelitian adalah berupa kawasan hutan mangrove desa Merak Belantung yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar dan dikelola oleh Dinas Kehutanan.
Metode Penelitian
Metode yang digunakan ada tiga yaitu pengumpulan data
primer dan sekunder, pengambilan sampel dan analisis data. Pada metode
pengambilan sampel digunakan Snowball
sampling, dan untuk mengetahui nilai ekonomi dari masing-masing komoditi
hutan digunakan metode simple random
sampling. Pada analisis data, data yang digunakan adalah analisis vegetasi,
data komoditi hutang mangrove, dan penggunaan nilai ekonomi komoditi langsung
hutan mangrove.
Langkah Penelitian
Pada analisi vegetasi, diawali dengan penentuan banyaknya jumlah plot dalam penelitian dengan rumus :
Untuk menghitung nilai total WTA, digunakan rumus sebagai
berikut :
Hasil
dan Pembahasan
Pada analisis
vegetasi didapat hasil yaitu, sebagian besar jenis pohon mangrove yang terdapat
pada hutan mangrove desa Merak Belantung adalah dari famili Rhizophoraceaesebanyak
5 pohon mangrove yaitu bakau besar (Rhizophora mucronata), bakau kecil (R.
apiculata), mentigi (Ceriops tagal), tanjung putih (Bruguiera
cylindrica), dan tanjung merah (Bruguiera
gymnorrizha). Jenis pohon mangrove desa Merak
Belantung juga didominasi oleh kelompok
mangrove mayor yang terbagi menjadi 4 famili mangrove, yaitu Avicenniaceae, Rhizophoraceae, Palmae, dan
Sonneratiaceae. Berdasarkan
perhitungan menggunakan rumus didapat bahwa pohon Bakau besar (Rizhopora
mucronata) memiliki kerapatan relatif (KR) sebesar 30,51 %, frekuensi
relatif (FR) sebesar 33,33%, dominasi relatif (DR) sebesar 69,76%, indeks nilai
penting (INP) sebesar 133,60%. Pohon bakau kecil (Rizhopora apiculata)
memiliki kerapatan raltif (KR) sebesar 55,10%, frekuensi relatif (FR) sebesar
22,22%, dominasi relatif (DR) sebesar
17,13 %, dan indeks nilai penting (INP) sebesar 94,45 %. Pada pohon Mengadai (Lumnitzera
racemosa) memiliki kerapatan relatif (KR) sebesar 11,86 %, frekuensi
relatif (FR) sebesar 33,33%, dominasi relatif (DR) sebesar 7,71%, indeks nilai
penting (INP) sebesar 52,90%. Pada pohon api-api (Avicennia alba)
memiliki kerapatan relatif (KR) sebesar 2,54%, frekuensi relatif (FR) sebesar
11,11%, dominasi relatif (DR) sebesar 5,40%, dan indeks nilai penting (INP)
sebesar 19,05%.
Hasil yang didapat
dari potensi ekonomi komoditi langsung hutan mangrove adalah nilai komoditi
hutang mangrove di desa Merak Belantung yang memiliki nilai ekonomi adalah ikan
kakap, ikan belanak, ikan windu, ikan lukan, kerang tiram, kepiting, ikan
gelodok dan buah pidada (Sonneratia
caseolaris). Komoditi hutan mangrove Desa Merak Belantung yang memiliki nilai ekonomi
tertinggi adalah kepiting yaitu sebesar Rp 219.000.000/tahun
dan komoditi yang memiliki nilai ekonomi terendah adalah ikan belanakdan kerang
tiram yaitu sebesar Rp 18.250.000/tahun. Dari nilai rataan WTA (EWTA) hanya diketahui bahwa hanya 1 responden
yang mengetahui manfaat dari buah pidada yang memiliki potensi ekonomi. Dugaan
nilai rataan WTA dari komoditi hutan
mangrove buah pidada ini adalah sebesar Rp. 2.190.000/tahun. Total
nilai WTA responden terhadap komoditi hutan mangrove Desa Merak Belantung buah pidada diperoleh dari perkalian
nilai rataan responden dengan jumlah komoditi hutan mangrove dari Desa Merak Belantung yang
tidak memiliki pasar dan harga pasar, berdasarkan
perhitungan tersebut didapatkan hasil sebesar Rp 2.190.000 per tahun. Nilai tersebut merupakan total nilai kesediaan
menerima pembayaran atas komoditi hutan mangrove
Desa Merak Belantung Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung Selatan yang tidak memiliki harga pasar dan pasar.
Kelemahan
Penelitian
Kelemahan dari penelitian ini adalah hanya sebagain kecil
masyarakat atau responden yang mengetahui manfaat dan nilai ekonomi dari
mangrove tersebut. Serta penelitian tersebut banyak menggunakan rumus.
Kesimpulan
Dengan adanya
penelitian ini diharapkan bertambahnya informasi tentang manfaat dan nilai
ekonomi yang terdapat di mangrove terkhususnya untuk masyarakat setempat
sehingga dapat dimanfaatkan dan menambah penghasilan bagi masyarakat setempat
dan juga mengetahui jenis-jenis vegetasi dikawasan mangrove desa Merak
Belantung tersebut.



Komentar
Posting Komentar